Dalam sebuah hadits Nabi dijelaskan bahwa “Jagalah kesempatan sebelum datang kesempitan”. Kesempatan merupakan salah satu di antara nikmat yang besar bagi manusia. Kebesaran nikmat tersebut sangat terasa ketika dalam keadaan yang sempit. Kesempatan yang dimaksud adalah kesempatan yang berkaitan dengan waktu. Artinya waktu luang bagi seseorang untuk memanfaatkannya dengan berbagai hal atau aktivitas yang bermanfaat. Waktu merupakan anugerah dan rahmat dari Zat Yang Maha Kuasa bagi setiap orang. Waktu juga merupakan salah satu hal terus berjalan tanpa mengenal batas. Perguliran waktu setiap saat harus benar-benar dijadikan momentum bagi setiap orang untuk terus melakukan hal yang berfaedah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, jangan biarkan waktu yang terus berjalan digunakan untuk hal-hal yang sia-sia tanpa guna. Allah swt sangat benci kepada seorang hamba yang tidak mampu memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada_Nya. Dalam sebuah ayat dijelaskan, yang artinya “Sesunggunya manusia benar-benar dalam keadaan merugi kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih”. Secara tegas ayat tersebut menyuruh kepada setiap orang agar waktu yang dimiliki harus digunakan untuk selalu mendekatkan diri kepada_Nya yang disertai dengan implementasi amal kebajikan ( amal shalih).
Kesempatan tidak akan datang dua kali. Itulah sepotong kalimat yang sering terucap dari mulut seseorang. Namun apakah kita sudah mampu memahami isi pesan yang terkandung dalam ungkapan tersebut? Sudahkah kita mampu memanfaatkan waktu luang yang kita miliki untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah swt? Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa kita gunakan untuk berkarya dan mengukir prestasi? Sangat ironis, bila kita faham bahwa kesempatan tidak datang dua kali tapi sedikitpun kita tidak mampu menghayati inti pesan yang terkadung di dalamnya. Hal yang harus dilakukan sekarang adalah mengintrospeksi (Muhasabah) terhadap kelalaian yang selama ini kita lakukan. Jangan jadikan hari-hari kita sebagai bomerang yang kelak akan menghantam diri kita sendiri. Cukuplah kelalaian dan kekhilafan yang telah dilakukan selama ini. Cobalah jadikan hal tersebut sebagai cambuk penyesalan sehingga kita mampu mengukir sejarah baru yang penuh dengan harapan kebaikan dan keberkahan hidup di masa depan.
Allah swt adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Berapapun banyak dosa yang telah dilakukan oleh hamba_Nya, selama hamba tersebut mau mengakui kesalahan dan bertobat kepada_Nya, maka Allah swt pasti berkenan untuk mengampuni dosa-dosa tersebut. Bahkan hamba yang bertobat kepada_Nya akan menjadi sosok hamba yang dicintai oleh_Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri”. Oleh karena itu, marilah kita mulai berkomitmen untuk melakukan sebuah perubahan dalam hidup demi kecemerlangan dan keberkahan di masa depan. Karena target apapun yang hendak kita capai nanti tak akan terlepas dari sebuah komitmen awal. Dari komitmen tersebut akan tumbuh suatu energi yang besar untuk melaju ke arah yang lebih baik. Motivasi untuk terus maju pun akan selalu terbina hingga akhirnya target hidup untuk menjadi insan yang baik akan mudah terealisasi.
Wallahu 'Alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar