Kebahagiaan dan kekecewaan seseorang seringkali terlihat dari ekspresi wajah dan tindakan. Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, memiliki kebebasan untuk mengekspresikan sesuatu yang tengah dirasakan. Kebebasan seseorang dalam berkekspresi mempunyai batasan tersendiri. Karena apabila kebebasan berekspresi tanpa ada batasan, maka dikhawatirkan akan mengganggu ketenangan orang lain. Jadi setiap orang harus mampu mengenal lingkungan dimana ia mengungkapkan ekspresinya. Ajaran agama Islam pun sangat membenci bagi setiap orang yang melampaui batas, baik dalam berucap maupun bertindak.
Sejak tanggal 18 April 2011 yang lalu, seluruh siswa/i SLTA secara serentak mengikuti Ujian Nasional (UN). Bagi sebagian siswa/i SLTA kelas akhir, kata UN merupakan sebuah momok yang cukup menyeramkan. Hal itu karena mereka belum siap untuk mengikuti proses pelaksanaan UN. Bagi siswa/i yang memang sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari, maka pelaksanaan UN terasa ringan dan tidak menjadi momok yang menakutkan. Rasa khawatir dan cemas mungkin tidak hanya dirasakan dan dialami oleh siswa/i SLTA kelas akhir, namun hampir seluruh dewan guru merasakan hal yang sama. Seluruh dewan guru, terlebih kepala sekolah pasti berusaha semaksimal mungkin agar anak didiknya mampu menjalani dan menyelesaikan UN dengan meraih hasil yang membanggakan.
Setelah pelaksanaan UN selesai, walaupun belum diketahui hasilnya, tidak sedikit dari siswa/i yang langsung mengekspresikan kebahagiaannya dengan beragam cara. Kebanyakan mereka merasa bahagia bukan lantaran meraih hasil yang baik dan membanggakan namun kebahagiaan mereka lebih tercipta oleh rasa bebas karena lepas dari beban belajar. Diakui atau tidak inilah yang sudah menjadi rahasia umum bagi para siswa/i yang telah mengikuti ujian nasional (UN). Ekspresi kebahagiaan yang mereka lakukan belum tercermin sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan anugerah sehingga ia mampu menyelesaikan proses uijian. Namun apa-apa yang mereka telah ekspresikan lebih cenderung kepada pengingkaran terhadap nikmat Allah SWT (kufur nikmat). Karena tidak sedikit akibat dari ekspresi mereka yang telah merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, berpikirlah dengan logis dan ikuti petunjuk ajaran agama dalam mengekspresikan sesuatu.
Wallahu A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar